Kibar News, Bombana — Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Rakadua di Kecamatan Poleang Barat dan Tontonunu, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, sejak Minggu dini hari (26/04/2026) sekitar pukul 01.00 WITA, memicu banjir yang merendam permukiman warga.
Genangan air datang nyaris tanpa jeda, memasuki rumah-rumah warga dan bertahan selama kurang lebih tiga jam. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 40 sentimeter hingga mencapai satu meter di beberapa titik terendah.
Desa Rakadua menjadi wilayah yang terdampak paling signifikan. Sedikitnya 12 rumah warga dilaporkan terendam, dengan air masuk hingga ke dalam bangunan, merendam perabotan dan mengganggu aktivitas warga.
“Penyebabnya hujan deras. Air cepat sekali naik,” ungkap salah satu warga terdampak.
Kondisi di Rakadua diperparah oleh faktor geografis. Wilayah yang berada di dataran rendah membuat air dengan mudah menggenang, ditambah sistem drainase yang belum mampu menampung debit air dalam jumlah besar.
“Letak wilayahnya rendah, ditambah saluran air kurang memadai, jadi air cepat meluap,” jelas warga lainnya.
Sementara itu, di Desa Tontonunu, penyebab banjir memiliki karakter berbeda. Selain curah hujan tinggi, faktor lingkungan turut memperparah situasi.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Awang, menjelaskan bahwa pendangkalan sungai serta tumpukan sampah di sepanjang aliran menjadi pemicu utama meluapnya air ke permukiman warga.
“Untuk Tontonunu, banjir terjadi karena kapasitas sungai berkurang akibat sedimentasi dan sampah,” terangnya saat dikonfirmasi, Selasa (28/04/2026).
Kedaruratan

Ia menambahkan, untuk Desa Rakadua, persoalan justru lebih kompleks. Padatnya permukiman warga disebut telah menutup jalur air alami, sehingga air tidak memiliki akses pembuangan ke sungai terdekat.
“Kondisi ini membuat air terjebak di permukiman dan sulit surut dengan cepat,” jelasnya.
Sebagai langkah penanganan, BPBD Bombana telah menyiapkan sejumlah skema solusi. Untuk Desa Tontonunu, dua langkah prioritas dinilai mendesak, yakni pembebasan lahan di bantaran sungai serta normalisasi aliran sungai guna mengembalikan kapasitas tampung air.
“Kalau dua langkah ini dilakukan, potensi banjir berulang bisa ditekan signifikan,” tegas Awang.
Adapun untuk Rakadua, pemerintah masih mengkaji sistem drainase lingkungan yang memungkinkan diterapkan, mengingat keterbatasan ruang akibat padatnya permukiman.
Hingga saat ini, BPBD bersama pemerintah kecamatan dan desa masih melakukan pendataan rumah terdampak serta menyiagakan personel untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.
Masyarakat pun diimbau tetap waspada. Berdasarkan prakiraan cuaca, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Meski sempat menimbulkan kepanikan, kondisi berangsur membaik. Air kini mulai surut dan aktivitas warga perlahan kembali normal.
Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, kejadian tersebut menjadi peringatan serius bahwa persoalan tata ruang, drainase, dan kesadaran lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa lagi ditunda di wilayah ini.











Komentar