Pemkab Bombana Kembali Gelar Rakor Inflasi Bersama Kemendagri

Daerah, News211 Dilihat
banner 468x60

KIBAR.NEWS, DAERAH- Pemerintah Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali menggelar rapat koordinasi (Rakor) bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara virtual di aula rapat Measalaro, Kantor Bupati Bombana, Senin (15/1/24)

Rakor meeting zoom yang dipimpin langsung oleh Irnspektur Jenderal (Irjen) Kemendagri, Tomsi Tohir ini diikuti oleh Pj. Bupati Bombana, Edy Suharmanto bersama jajarannya yang tergabung dalam tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kabupaten Bombana.

banner 970x250

Dalam rapat hybrid ini, Tomsi Tohir menyebut indeks perkembangan harga per tanggal 15 Januari 2024 menurun menjadi 0,259 persen, dimana sebelumnya pada pekan lalu masih berada di kisaran diatas rata-rata. Ia juga membeberkan tentang penyumbang Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang berasal dari 3 jenis komoditi yakni, pada komoditi cabe rawit, cabe merah dan beras.

“Intinya, tiga komoditas ini yang menjadi jurus penurunan harga alias deflasi, dan ada 10 kabupaten dengan Penyumbang IPH tertinggi di Sultra, salah satunya adalah Kabupaten Muna Barat yang menyuplay sebesar 3,94%. Dan untuk harga Bawang merah secara Nasional naik 16,04%, sedangkan untuk harga cabe merah turun 0.20%, ” terang Tomsi Tohir.

Lanjutnya, untuk minggu pertama bulan Januari 2024, Komoditas yang mengalami kenaikan adalah bawang merah, bawang putih dan ayam ras. Sementara Inflasi dari tahun ketahun sebesar 2,61% dan beras sebagai kontribusi Inflasi terbesar. Namun karena bantuan pangan beras yang efektif sehingga mampu menekan laju kenaikan harga hingga saat ini.

Karena itu, Tomsi Tohir memberi atensi ke sejumlah daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang berstatus tinggi pada angka infalsi agar berpartisipasi aktif melalui beberapa upaya yakni dengan menanam dan melakukan monitiring di lapangan.

Tomsi Tohir juga mengomentari tentang produksi bawang merah untuk bulan Januari sampai Februari 2024 yang menurun, utamanya di sentra produksi khusus di pulau jawa yang melakukan gerakan tanam pada November-Desember 2023 lalu. Menurunnya hasil panen pada komoditi ini akibat El-Nino dan pergantian cuaca musim penghujan yang secara otomatis mengakibatkan hasil panen berkurang alias mundur dan tidak stabil.

Meski begitu, Kemendagri memprediksi tentang produksi hasil panen di bulan Maret hingga April 2024, khususnya untuk di bulan puasa dan lebaran diperkirakan berkurang.

“Oleh karena itu, perlu diantisipasi dengan percepatan tanam diawal tahun 2024,” ujarnya.

Usai mengikuti meeting zoom tersebut, Penjabat Bupati Bombana, Edy Suharmanto langsung mengarahkan OPD terkait yakni Dinas perindagkop agar secepatnya melakukan upaya penurunan inflasi pada sektor pangan beras.

” Saya harap kepala dinas Perindakop agar secepatnya melaunching kios inflasi agar bisa mengantisipasi laju inflasi di daerah kita. Selanjutnya untuk pemenuhan ketersediaan stock dan kebutuhan pangan dan tindak lanjut dalam penyaluran dan pengisian data untuk bantuan tidak terduga, ” tutup Edy Suharmanto. (MIL/ITA)

banner 336x280

Komentar