Kibar News, Bombana — Citra pariwisata Kabupaten Bombana kembali diuji. Kali ini, sorotan tajam datang dari yang melayangkan kritik keras terhadap pengelolaan destinasi wisata di Karang Empat dan Pasir Panjang, Desa Ranokomea, Kecamatan Poleang Barat.
Ketua Ikatan Mahasiswa Bombana (IKMB), Wiranto secara terbuka mengecam kondisi kebersihan di dua destinasi unggulan tersebut yang dinilai memprihatinkan dan jauh dari standar kenyamanan wisata.
“Sampah berhamburan di mana-mana, sementara pengunjung tetap dipungut karcis masuk yang tidak murah. Ini jelas tidak sepadan,” tegasnya dalam pernyataan resmi.
Wisata Indah, Tapi Terkubur Sampah
Karang Empat dan Pasir Panjang selama ini dikenal sebagai ikon wisata pesisir Bombana dengan panorama alam yang memikat. Namun, keindahan itu kini disebut mulai tercoreng oleh persoalan klasik: pengelolaan sampah yang amburadul.
Menurut Wiranto, pengelola wisata terkesan abai terhadap tanggung jawab dasar dalam menjaga kebersihan kawasan. Tumpukan sampah yang tidak terkelola dengan baik dinilai bukan hanya merusak estetika, tetapi juga berpotensi mengancam ekosistem pesisir.
“Pengelola gagal menghadirkan kenyamanan bagi pengunjung. Jangan hanya mengejar keuntungan dari tiket masuk, tapi lupa menjaga lingkungan,” lanjut Wiranto dengan nada tajam.
Kritik yang Menyengat: Antara Profit dan Tanggung Jawab
Pernyataan Wiranto bukan sekadar kritik biasa. Ini adalah tamparan keras bagi pengelola wisata yang dinilai tidak profesional dalam mengelola potensi daerah.
Dalam logika sederhana, pungutan karcis seharusnya berbanding lurus dengan kualitas pelayanan. Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya—pengunjung membayar, tetapi disuguhi pemandangan yang tercemar sampah.
Kondisi ini, jika dibiarkan, berpotensi menurunkan minat wisatawan sekaligus merusak reputasi pariwisata Bombana secara keseluruhan.
Seruan Kolektif: Masyarakat dan Pemerintah Harus Bergerak
Tak hanya menyasar pengelola, IKMB juga mengajak masyarakat untuk ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan wisata.
“Kesadaran kolektif itu penting. Jangan buang sampah sembarangan. Keindahan alam ini milik kita bersama,” imbau Wiranto.
Di sisi lain, IKMB mendesak pemerintah daerah agar tidak tinggal diam. Pengawasan terhadap pengelola wisata dinilai harus diperketat, bahkan jika perlu disertai sanksi tegas bagi pihak yang lalai.
“Pemerintah harus hadir. Jangan biarkan tempat wisata di Bombana dikelola tanpa standar. Kalau dibiarkan, ini bisa jadi preseden buruk,” tegasnya.
Alarm untuk Pariwisata Bombana
Kritik IKMB ini sejatinya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Pariwisata bukan hanya soal menarik pengunjung, tetapi juga tentang menjaga keberlanjutan lingkungan dan memberikan pengalaman yang layak.
Jika persoalan kebersihan terus diabaikan, maka bukan tidak mungkin destinasi unggulan seperti Karang Empat dan Pasir Panjang perlahan kehilangan daya tariknya.
Di tengah upaya besar pemerintah mendorong sektor pariwisata sebagai motor ekonomi daerah, suara mahasiswa ini menjadi pengingat penting: keindahan alam tidak akan berarti tanpa pengelolaan yang bertanggung jawab.











Komentar