Kibar News, Bombana — Polemik longsor di wilayah IUP PT Almharig di Pulau Kabaena terus bergulir di ruang publik. Di tengah derasnya tudingan yang menyebut adanya mata air tertimbun akibat aktivitas tambang
Pihak perusahaan melalui Kepala Teknik Tambang (KTT), Yazid angkat bicara dan mengimbau masyarakat terutama kepada Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kabaena (Hippelwana) agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
KTT PT Almharig, Yazid, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan adanya mata air yang tertimbun akibat longsor, sebagaimana yang ramai diberitakan dan berkembang di tengah masyarakat.
“Berdasarkan hasil peninjauan resmi Dinas Lingkungan Hidup (DLH), tidak ada mata air yang tertimbun. Ini penting untuk diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman,” tegasnya.
Ia menjelaskan, longsor yang terjadi di wilayah Olondoro, Desa Rahadopi, lebih berdampak pada infrastruktur penunjang, khususnya jaringan pipa air bersih milik pihak tertentu, bukan sumber mata air alami.
Fakta ini juga sejalan dengan temuan lapangan yang menyebutkan bahwa material longsor memang merusak instalasi pipa air bersih yang melayani sejumlah desa, namun bukan menimbun sumber mata air secara langsung .
“Yang terdampak itu adalah jaringan pipa—yang dikelola oleh pihak atau kelompok tertentu—bukan mata airnya. Jadi narasi bahwa sumber air hilang atau tertimbun itu tidak benar,” lanjut Yazid.
Di sisi lain, berbagai tudingan yang mengaitkan longsor dengan aktivitas tambang terus bermunculan, bahkan memicu aksi demonstrasi dan desakan politik agar dilakukan evaluasi terhadap PT Almharig . Sejumlah pihak menilai longsor telah memperparah kondisi lingkungan dan mengancam sumber air masyarakat.
Namun demikian, KTT Almharig melihat adanya indikasi bahwa bencana alam ini dimanfaatkan untuk membangun opini yang merugikan perusahaan.
“Kami menduga ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi ini untuk menyudutkan perusahaan dengan menyebarkan isu-isu yang tidak sesuai fakta,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa longsor di wilayah tersebut bukanlah kejadian baru, melainkan fenomena berulang yang dipicu oleh faktor alam, terutama curah hujan tinggi yang menyebabkan kondisi tanah menjadi labil.
Dalam situasi yang semakin kompleks ini, Yazid mengajak masyarakat Kabaena dan Hippelwana untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh narasi yang belum terbukti kebenarannya.
“Kami mengimbau masyarakat dan Hippelwana agar tetap bijak dalam menerima informasi. Jangan mudah terprovokasi. Mari kita pegang fakta dan hasil kajian resmi sebagai rujukan bersama,” tutupnya.
Peristiwa longsor di Kabaena kini tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga pertarungan narasi antara fakta lapangan dan opini publik. Di tengah tarik-menarik kepentingan, masyarakat diharapkan tetap berpijak pada data dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.











Komentar