Kibar News, Bombana – Sebuah peristiwa yang menyita perhatian terjadi di wilayah Kepulauan Kabaena, Kabupaten Bombana. Seorang pasien rujukan dari Desa Tedubara, Kecamatan Kabaena Utara, terpaksa dievakuasi menggunakan perahu kayu menuju RS Tanduale pada Rabu (11/3/2026) dini hari, setelah ambulans laut yang tersedia tidak dapat segera digunakan.
Pasien tersebut sebelumnya mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Kabaena Utara. Namun karena kondisi kesehatannya dinilai darurat dan membutuhkan penanganan medis lanjutan, tenaga medis memutuskan untuk melakukan rujukan ke rumah sakit di daratan utama.
Ironisnya, proses rujukan itu justru berlangsung di tengah malam dengan sarana yang jauh dari standar layanan darurat. Pasien diberangkatkan sekitar pukul 00.11 WITA menggunakan perahu kayu, dan baru tiba di RS Tanduale sekitar pukul 02.30 WITA setelah menempuh perjalanan laut dalam kondisi malam hari dengan gelombang laut yang cukup kuat.
Seorang suster yang mendampingi pasien mengungkapkan bahwa sebenarnya Dinas Kesehatan Kabupaten Bombana telah menyediakan speed boat yang difungsikan sebagai ambulans laut sementara. Namun dalam praktiknya, fasilitas tersebut sulit digunakan karena proses koordinasi yang dinilai terlalu rumit.
“Kenapa tidak pakai speed ambulans laut yang disediakan dinas kesehatan? Karena alur koordinasinya sangat rumit,” ujar suster pendamping kepada awak media.
Ia mengaku bahwa kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, tenaga kesehatan di Puskesmas Kabaena Utara juga mengalami kesulitan ketika hendak merujuk pasien dalam kondisi darurat.
Menurutnya, tenaga medis sering kali harus melalui proses koordinasi yang panjang, bahkan dalam beberapa kasus diminta menunggu hingga keesokan hari. Padahal kondisi pasien sering kali membutuhkan penanganan segera.
“Beberapa kali kami mau rujuk pasien dari Kabaena Utara, tetapi terkendala koordinasi yang ribet. Bahkan pernah diminta menunggu besok, sementara pasien dalam kondisi darurat dan harus segera dirujuk,” ungkapnya.
Situasi ini menjadi sorotan, mengingat wilayah Kepulauan Kabaena termasuk daerah dengan kategori rentan kendali dalam pelayanan kesehatan. Kondisi geografis yang dipisahkan oleh laut membuat sistem rujukan sangat bergantung pada transportasi laut yang cepat dan responsif.
Diketahui, saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Bombana dipimpin oleh pejabat baru, Fatmiati Rinambo. Pergantian kepemimpinan ini terjadi setelah sebelumnya dinas tersebut dipimpin oleh Darwin.
Beberapa tenaga kesehatan di wilayah kepulauan menilai bahwa pada masa kepemimpinan sebelumnya, persoalan ambulans laut untuk wilayah rentan kendali telah ditata dengan lebih sederhana dan responsif.
Menurut mereka, pada masa tersebut alur koordinasi rujukan tidak berbelit, sehingga ketika ada pasien yang harus segera dirujuk, fasilitas ambulans laut dapat langsung digunakan tanpa proses yang panjang.
Peristiwa rujukan menggunakan perahu kayu di tengah malam ini pun menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem rujukan darurat di wilayah kepulauan Bombana.
Padahal sebelumnya Bupati Bombana, Ir. H. Burhanuddin, M.Si, telah memberikan arahan tegas kepada jajaran Dinas Kesehatan agar memastikan pelayanan rujukan bagi masyarakat di wilayah rentan kendali dapat berjalan cepat dan tanpa hambatan.
Arahan tersebut menekankan bahwa pasien dari wilayah kepulauan seperti Kabaena harus dapat ditangani dengan sistem rujukan yang siap siaga, baik dari Kabaena menuju Kasipute maupun sebaliknya.
Kejadian ini kembali menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan membutuhkan sistem koordinasi yang cepat, sederhana, dan responsif, agar keselamatan pasien tidak harus dipertaruhkan oleh prosedur birokrasi yang berbelit.
Bagi tenaga kesehatan yang bekerja di garis terdepan, satu hal yang paling mereka harapkan adalah kecepatan respons ketika nyawa pasien berada dalam situasi darurat. Sebab dalam kondisi seperti itu, setiap menit bisa menjadi penentu antara keselamatan dan risiko yang lebih besar bagi pasien.











Komentar