Ketua Organisasi Pengusaha di Sultra Dilaporkan atas Dugaan Penipuan dan Penggelapan Rp 1,44 Miliar

Kibar News, Bombana – Kuasa hukum korban, Sukdar, S.H., M.H., dari kantor advokat Sukdar-Partners Law Firm, resmi melaporkan AT, ketua sebuah organisasi pengusaha di Sulawesi Tenggara, atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan. Laporan tersebut dilayangkan ke Polda Sultra pada 6 Februari 2025 dan saat ini tengah ditangani oleh Subdit 1 Unit 2 Reskrimum Polda Sultra.

Sukdar menjelaskan bahwa kasus ini bermula pada Oktober 2011 ketika kliennya ingin bekerja di sektor pertambangan nikel tetapi tidak memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). Korban kemudian diperkenalkan kepada AT, yang mengklaim dapat membantu memperoleh kontrak Joint Operation (JO) dengan sebuah perusahaan yang beroperasi di Marombo, Konawe Utara.

“AT menyampaikan bahwa untuk mendapatkan JO tersebut, korban harus menyiapkan dana minimal Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar. Karena keterbatasan dana, korban hanya mampu menyediakan Rp 1,1 miliar,” ungkap Sukdar.

Pada 2 November 2011, korban bertemu dengan AT di Kendari, di mana AT menjanjikan bahwa dalam 15 hingga 30 hari setelah uang diserahkan, kontrak JO akan diberikan. Berdasarkan janji tersebut, korban menyerahkan uang sebesar Rp 1,15 miliar kepada AT, yang dibuktikan dengan kwitansi yang ditandatangani AT. Selanjutnya, korban dan AT bersama-sama menuju Bank Mandiri Cabang Kendari untuk mentransfer uang tersebut ke rekening AT.

Namun, hingga 17 hari setelah pembayaran, kontrak JO yang dijanjikan tak kunjung diberikan. “Saat korban mempertanyakan janji tersebut, AT meminta korban untuk bersabar. Setelah menunggu hingga tiga tahun, korban kembali menemui AT pada April 2014 untuk meminta pengembalian dana, namun tidak diindahkan,” tambah tim hukum dari SP Law Firm, Sarah, S.H.

Korban telah berupaya menyelesaikan masalah ini secara musyawarah dan kekeluargaan, bahkan memberikan teguran tertulis. Namun, AT hanya bersedia mengembalikan Rp 800 juta, yang tidak disetujui oleh korban.

Tim hukum korban lainnya, Moh. Zuhdy Al Ghiffari, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa korban mengalami kerugian sebesar Rp 1,14 miliar, belum termasuk kerugian waktu dan penderitaan lainnya. AT dilaporkan atas dugaan pelanggaran Pasal 378 dan Pasal 372 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan.

Selain AT, korban juga melaporkan JN dalam perkara terpisah. JN diduga berperan dalam memperkenalkan korban kepada AT dan turut memperdaya korban dengan tipu muslihat, yang menyebabkan kerugian tambahan sebesar Rp 300 juta. Dengan demikian, total kerugian yang dialami korban mencapai Rp 1,44 miliar.

“Kami menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada aparat penegak hukum, khususnya Polda Sultra, untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan guna memastikan korban mendapatkan keadilan,” tutup Zuhdy.

Komentar