Kibar News, Bombana – Di tengah semangat pemerataan pendidikan yang terus digaungkan pemerintah, masih terdapat satuan pendidikan yang berjuang dalam keterbatasan. Bangunan sederhana, minim sarana belajar, kekurangan tenaga pendidik, hingga terbatasnya akses bantuan masih menjadi realitas yang dihadapi sejumlah sekolah di wilayah terpencil Kabupaten Bombana.
Kondisi itulah yang mendorong Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bombana, Asdar Darwis, bergerak cepat melakukan kunjungan langsung ke SDS Sangkama, Desa Tongkoseng, Kecamatan Tontonunu, Senin (16/2/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan setelah Bupati Bombana menerima laporan terkait kondisi sekolah swasta tersebut yang dinilai membutuhkan perhatian serius. Informasi yang diterima menyebutkan bahwa sekolah tersebut memiliki keterbatasan fasilitas belajar mengajar yang cukup memprihatinkan, bahkan hanya ditopang oleh seorang tenaga pengajar yang berstatus guru honorer.
Bagi Pemerintah Kabupaten Bombana, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pendidikan merupakan hak dasar setiap anak, tanpa memandang lokasi geografis maupun status sekolah tempat mereka menimba ilmu.
Karena itu, tidak menunggu waktu lama, Disdikbud Bombana langsung turun ke lapangan untuk melihat secara langsung kondisi riil sekolah sekaligus memetakan langkah-langkah penanganan yang dapat dilakukan.
Dalam kunjungan tersebut, Asdar Darwis bersama tim tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa sejumlah bantuan awal berupa peralatan cat, buku gambar, pensil warna, serta bendera Merah Putih yang diserahkan kepada pihak sekolah sebagai bentuk dukungan terhadap proses pembelajaran.
Meski bantuan tersebut bersifat awal, kehadiran pemerintah daerah di tengah keterbatasan yang dihadapi sekolah memberikan harapan baru bagi para guru dan siswa yang selama ini berjuang mempertahankan aktivitas belajar mengajar.
Namun bagi Disdikbud Bombana, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial atau penyaluran bantuan semata.
Lebih dari itu, kedatangan tim difokuskan untuk melakukan identifikasi mendalam terhadap berbagai persoalan yang dihadapi sekolah, baik dari aspek sumber daya manusia, sarana dan prasarana, tata kelola sekolah, maupun kebutuhan strategis lainnya yang memerlukan intervensi pemerintah.
Selama berada di lokasi, Asdar Darwis melakukan dialog langsung dengan pihak sekolah, guru, dan masyarakat sekitar untuk menggali berbagai informasi yang nantinya akan menjadi bahan evaluasi dan dasar penyusunan langkah tindak lanjut.
Menurutnya, terdapat dua persoalan utama yang menjadi perhatian serius Disdikbud Bombana, yakni keterbatasan tenaga pendidik dan minimnya fasilitas pendidikan yang tersedia.
“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak di daerah terpencil tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak. Karena itu, hasil kunjungan ini tidak berhenti pada laporan semata, tetapi akan menjadi dasar penyusunan langkah-langkah strategis ke depan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Asdar Darwis mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengerahkan tim monitoring dan evaluasi khusus untuk melakukan kajian menyeluruh terhadap kondisi sekolah-sekolah swasta yang berada di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Kabupaten Bombana.
Tim tersebut nantinya akan melakukan analisis terkait pengelolaan sekolah, kebutuhan tenaga pendidik, kelayakan sarana dan prasarana, hingga berbagai faktor lain yang memengaruhi kualitas layanan pendidikan.
Salah satu opsi strategis yang tengah dipertimbangkan adalah upaya peralihan status sejumlah sekolah swasta tertentu menjadi sekolah negeri apabila memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut dinilai dapat membuka akses yang lebih luas terhadap berbagai program bantuan pemerintah, baik dari pemerintah pusat maupun daerah.
“Jika memungkinkan dan memenuhi regulasi, tentu kami akan mengupayakan solusi terbaik. Salah satunya melalui kajian terhadap kemungkinan perubahan status sekolah agar akses bantuan dan dukungan pemerintah menjadi lebih optimal,” jelasnya.
Kunjungan ke SDS Sangkama menjadi bukti bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berpusat di kawasan perkotaan. Di bawah kepemimpinan baru Disdikbud Bombana, perhatian terhadap sekolah-sekolah terpencil mulai diperkuat melalui pendekatan jemput bola dan pemetaan masalah secara langsung di lapangan.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Bombana untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh akses pendidikan yang layak.
Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan sebuah daerah tidak diukur dari seberapa maju sekolah yang berada di pusat kota, melainkan dari sejauh mana pemerintah mampu menghadirkan layanan pendidikan hingga ke wilayah-wilayah yang paling jauh sekalipun.
Dari sebuah sekolah sederhana di Desa Tongkoseng, pesan besar itu kembali ditegaskan: bahwa setiap anak Bombana berhak bermimpi, berhak belajar, dan berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik. Dan negara harus hadir untuk memastikan hak itu benar-benar terwujud.










Komentar