Mobil Terbakar di Dekat Pertamina Rumbia Muat 16 Jeriken Berisi Bensin, Damkar Akui Api Sulit Dikendalikan

Kibar News, Bombana — Persoalan keterlambatan penanganan kebakaran di Kabupaten Bombana kembali mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kabupaten Bombana bersama Satuan Polisi Pamong Praja, Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar), serta perwakilan mahasiswa. Forum tersebut menjadi ruang terbuka untuk membedah akar persoalan maraknya musibah kebakaran yang kerap menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.

Dalam rapat itu, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Kabupaten Bombana, Waridin Amdin, secara lugas memaparkan kondisi riil pelayanan pemadaman kebakaran di daerah. Ia menegaskan bahwa keterlambatan respons Damkar dalam sejumlah kejadian kebakaran bukan disebabkan lemahnya kinerja petugas, melainkan keterbatasan armada yang sangat signifikan.

“Saat ini Kabupaten Bombana hanya memiliki lima unit mobil pemadam kebakaran dan tiga unit pemadam roda tiga. Dengan kondisi wilayah yang luas, jarak antar kecamatan yang berjauhan, serta adanya wilayah kepulauan seperti Kabaena, tentu ini menjadi tantangan besar dalam pelayanan cepat kepada masyarakat,” ujar Waridin di hadapan peserta RDP.

Menurutnya, keterbatasan sarana tersebut membuat Damkar kerap berada dalam posisi sulit, terutama ketika kebakaran terjadi di lokasi yang jauh atau memiliki tingkat risiko tinggi. Ia menekankan bahwa kecepatan penanganan kebakaran sangat bergantung pada kesiapan armada dan jarak tempuh menuju lokasi kejadian.

Dalam forum tersebut, mahasiswa kemudian menyinggung insiden kebakaran mobil yang terjadi belum lama ini di dekat SPBU Pertamina Rumbia, Bombana. Peristiwa tersebut menjadi sorotan publik karena api dengan cepat membesar dan kendaraan tidak berhasil diselamatkan, meskipun lokasi kejadian berada di kawasan dalam kota.

Menanggapi hal itu, Waridin menjelaskan bahwa kebakaran mobil tersebut memang sangat sulit dikendalikan. Berdasarkan temuan petugas di lapangan, kendaraan tersebut diketahui memuat sebanyak 16 jerigen berisi bahan bakar bensin, sehingga api dengan cepat membesar dan sulit dipadamkan.

“Kondisi mobil itu berbeda dari kebakaran kendaraan biasa. Di dalamnya ditemukan 16 jeriken berisi bensin. Ini yang menyebabkan api sangat cepat membesar dan sulit dikendalikan, meskipun petugas sudah berupaya maksimal,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa keberadaan bahan mudah terbakar dalam jumlah besar di dalam kendaraan menjadi faktor utama kegagalan pemadaman awal, bahkan dengan armada yang ada saat ini.

Pernyataan tersebut kemudian memicu diskusi lanjutan dalam rapat. Mahasiswa menduga kendaraan yang terbakar tersebut merupakan mobil yang kerap mengantre di SPBU untuk membeli bahan bakar bersubsidi dalam jumlah besar dengan menggunakan jeriken. Dugaan tersebut mengarah pada praktik distribusi BBM subsidi yang tidak sesuai peruntukan.

Meski demikian, Waridin menegaskan bahwa pihak Damkar hanya berfokus pada aspek teknis penanganan kebakaran dan keselamatan, sementara dugaan praktik penjualan BBM subsidi secara ilegal merupakan ranah aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya di sejumlah media, sopir mobil yang terbakar sempat mengaku bahwa kebakaran dipicu oleh ledakan korek api di dalam kendaraan. Namun, temuan puluhan jeriken berisi bensin di dalam mobil tersebut menjadi fakta lapangan yang tidak terbantahkan dan memperlihatkan betapa tingginya risiko kebakaran yang dihadapi petugas.

Waridin berharap, melalui forum RDP ini, publik dapat memahami keterbatasan yang dihadapi Damkar Bombana sekaligus mendorong adanya perhatian serius terhadap penguatan sarana dan prasarana pemadam kebakaran. Menurutnya, tanpa penambahan armada dan sistem pendukung yang memadai, risiko keterlambatan penanganan kebakaran akan terus menghantui masyarakat.

“Kami bekerja di garis depan keselamatan. Tapi tanpa dukungan armada yang cukup, tentu kemampuan kami juga sangat terbatas,” pungkasnya.

Komentar