Kibar News, Bombana — Usia 28 tahun menjadi momentum penting bagi perjalanan politik Partai Amanat Nasional (PAN) di Kabupaten Bombana. Di tengah dinamika politik yang terus bergerak, DPD PAN Bombana kini memasuki babak baru di bawah kepemimpinan figur muda, Justang, legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) I Bombana yang duduk di Fraksi PAN DPRD Kabupaten Bombana.
Momentum tersebut ditandai dengan peringatan Milad ke-28 PAN yang dirangkaikan dengan doa bersama santri dan santriwati serta rapat pengurus DPD PAN Kabupaten Bombana.
Kegiatan itu bukan sekadar seremoni untuk menandai bertambahnya usia partai. Lebih dari itu, Milad ke-28 menjadi panggung refleksi bagi PAN Bombana untuk menatap kembali perjalanan panjang partai sekaligus membaca arah masa depan politiknya menjelang kontestasi Pemilu 2029.
Di usia yang telah memasuki hampir tiga dekade, PAN Bombana kini memiliki nahkoda baru. Justang dipercaya memimpin partai yang dikenal dengan simbol matahari tersebut setelah memperoleh Surat Keputusan (SK) dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN.
Pergantian kepemimpinan ini sekaligus membuka lembaran baru dalam sejarah politik PAN di Bombana.
Dari 9 Kursi hingga Kini Tersisa 3
Jejak PAN dalam politik Bombana bukanlah perjalanan yang kecil. Partai berlambang matahari itu pernah berada di puncak kejayaan ketika sistem pemilihan legislatif masih menggunakan tiga daerah pemilihan.
Pada Pemilu 2014, PAN bahkan mampu mendominasi parlemen Bombana dengan mengamankan 9 dari total 25 kursi DPRD Kabupaten Bombana.
Dominasi tersebut menempatkan PAN sebagai salah satu kekuatan politik paling menentukan di daerah.
Namun, panggung politik tidak pernah mengenal garis lurus.
Perubahan sistem daerah pemilihan, pergeseran peta dukungan masyarakat, hingga munculnya kekuatan politik baru membuat perolehan kursi PAN mengalami penurunan.
Pada Pemilu 2019, ketika Bombana terbagi menjadi lima daerah pemilihan, PAN hanya mampu mengamankan 5 kursi DPRD. Meski mengalami penurunan, posisi PAN masih cukup kuat hingga memperoleh jatah Wakil Ketua DPRD Bombana.
Lima tahun berselang, tren penurunan kembali terjadi.
Pada Pemilu 2024, PAN Bombana hanya memperoleh 3 kursi DPRD.
Angka tersebut tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi nahkoda baru partai.
Sebab, jika melihat rekam jejaknya, PAN pernah menjadi kekuatan dominan di parlemen Bombana. Dari sembilan kursi, kemudian lima kursi, hingga kini tiga kursi, grafik tersebut memperlihatkan tantangan besar yang harus dijawab oleh kepemimpinan Justang.
Justang dan Tantangan Menghidupkan Kembali Mesin Politik PAN
Kini, tongkat estafet kepemimpinan PAN Bombana berada di tangan generasi muda.
Justang bukan figur yang sepenuhnya asing dari dunia politik. Ia merupakan legislator muda dari Dapil I Bombana yang saat ini duduk di DPRD Bombana melalui Fraksi PAN.
Posisi tersebut memberinya modal pengalaman sekaligus tantangan untuk membangun kembali kekuatan partai dari tingkat akar rumput.
Kepemimpinan Justang juga hadir setelah sebelumnya sempat muncul dinamika terkait Musyawarah Daerah (Musda) PAN Bombana.
Musda bersama yang digelar secara virtual pada Februari 2026 sebelumnya ramai diberitakan dengan klaim bahwa Tafdil, sosok yang disebut telah memimpin PAN Bombana selama 12 tahun, kembali memimpin partai hasil Musda tersebut.
Namun, dinamika politik internal kemudian berkembang hingga DPP PAN akhirnya menerbitkan SK kepengurusan kepada Justang sebagai nahkoda baru PAN Bombana.
Perubahan tersebut menjadikan kepemimpinan Justang bukan sekadar pergantian nama di pucuk partai. Ia menghadapi tantangan untuk menyatukan kembali seluruh elemen internal sekaligus membangun mesin politik yang lebih efektif menuju pertarungan elektoral berikutnya.
Milad ke-28, Momentum Konsolidasi
Karena itu, peringatan Milad ke-28 PAN Bombana menjadi momentum yang sarat makna.
Doa bersama santri dan santriwati menjadi simbol bahwa perjalanan politik partai tidak hanya berbicara mengenai kekuasaan dan kursi parlemen, tetapi juga mengenai pengabdian kepada masyarakat.
Sementara rapat pengurus menjadi ruang penting untuk memperkuat konsolidasi internal di bawah kepemimpinan baru.
Bagi PAN Bombana, pekerjaan besar bukan hanya mempertahankan tiga kursi yang diraih pada Pemilu 2024. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengubah kondisi tersebut menjadi titik balik kebangkitan.
PAN harus kembali membangun struktur, memperkuat kaderisasi, memperluas basis dukungan, serta menghadirkan kerja politik yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Apalagi Pemilu 2029 masih menyisakan waktu. Artinya, terdapat ruang yang cukup panjang bagi kepemimpinan Justang untuk membuktikan apakah generasi muda mampu membawa PAN keluar dari tren penurunan elektoral.
Menanti Matahari Terbit Kembali di Bombana
Politik Bombana telah memberikan pelajaran bahwa kejayaan tidak pernah bersifat permanen.
Sembilan kursi pada 2014 menjadi bukti bahwa PAN pernah menjadi matahari yang sangat terang di panggung politik Bombana. Lima kursi pada 2019 menunjukkan bahwa kekuatan itu mulai tergerus. Sedangkan tiga kursi pada 2024 menjadi alarm bahwa partai membutuhkan energi baru.
Kini, energi baru itu datang melalui sosok Justang.
Pertanyaannya, mampukah legislator muda tersebut mengubah PAN Bombana dari sekadar bertahan menjadi kembali diperhitungkan?
Mampukah ia menyatukan kader, memperkuat struktur organisasi, merebut kembali kepercayaan pemilih, sekaligus mengembalikan PAN sebagai salah satu kekuatan utama di DPRD Bombana?
Jawabannya tentu tidak cukup dibuktikan melalui rapat pengurus ataupun seremoni Milad.
Jawabannya akan diuji oleh kerja politik selama tiga tahun ke depan—di desa-desa, di tengah masyarakat, di internal kader, dan akhirnya di bilik suara pada Pemilu 2029.
Dari matahari yang pernah bersinar dengan sembilan kursi, kini PAN Bombana harus mencari cara untuk kembali menyalakan cahayanya. Dan Justang kini berada di kursi kemudi.










Komentar