Kibar News, Bombana — Peta kekuatan politik di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Bombana kian memanas. Di tengah kontestasi yang mulai mengerucut, salah satu kandidat kuat, Nur Kholis, secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk menakhodai Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Bombana—bahkan mengklaim telah mengantongi restu dari Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Sulawesi Tenggara.
Pernyataan itu bukan sekadar manuver politik biasa. Ia datang di saat dinamika internal partai sedang berada pada titik paling kompetitif, setelah Jazilul Fawaid mengungkapkan bahwa Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB telah memetakan empat nama yang akan bertarung memperebutkan kursi ketua DPC PKB Bombana.
Keempat figur tersebut bukan nama sembarangan. Ada Iskandar selaku petahana, Nasruddin, Nur Kholis yang juga menjabat Ketua Fraksi PKB DPRD Bombana, serta Jumadil—anggota DPRD termuda yang mulai mencuri perhatian dalam dinamika politik lokal.
Namun di antara keempat nama itu, Nur Kholis tampil dengan kepercayaan diri tinggi. Legislator dua periode ini menilai momentum politik PKB di Bombana sedang berada pada fase emas, dan membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengakselerasi capaian partai ke level yang lebih tinggi.
“Saya siap memimpin PKB Bombana agar lebih maju dan mampu menjawab tantangan ke depan,” tegasnya.
Klaim dukungan dari DPW PKB Sulawesi Tenggara menjadi sinyal kuat bahwa pertarungan ini bukan sekadar kompetisi lokal, melainkan bagian dari strategi besar partai dalam memperkuat basis kekuatan di wilayah Sulawesi Tenggara.
Sebagaimana diketahui, Bombana saat ini disebut-sebut sebagai salah satu episentrum kekuatan PKB di Sultra. Dalam beberapa tahun terakhir, partai ini berhasil menunjukkan tren peningkatan signifikan, baik dari sisi elektoral maupun pengaruh politik di tingkat daerah.
Nur Kholis pun memanfaatkan rekam jejaknya sebagai modal politik. Dua periode duduk di DPRD Bombana dengan basis suara yang relatif stabil, menurutnya menjadi bukti bahwa dirinya memiliki kedekatan kuat dengan konstituen.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti potensi strategis wilayah Bombana dan Konawe Selatan sebagai kunci ekspansi PKB ke tingkat provinsi.
“Target ke depan jelas, kita harus mampu merebut kursi DPRD Provinsi untuk daerah pemilihan Bombana-Konawe Selatan,” ujarnya.
Menurutnya, peluang tersebut sangat terbuka lebar. Selain tren elektoral PKB yang terus meningkat, komposisi demografis di Konawe Selatan—yang didominasi lebih dari 50 persen masyarakat berlatar belakang suku Jawa dan Bali—dinilai sebagai basis potensial yang selama ini identik dengan kekuatan PKB.
Dengan kalkulasi politik tersebut, Nur Kholis optimistis PKB tidak hanya mampu bertahan sebagai kekuatan dominan di Bombana, tetapi juga melompat ke level provinsi sebagai pemain utama.
Di sisi lain, kontestasi ini dipastikan tidak akan berjalan mudah. Kehadiran petahana dan figur-figur lain dengan basis masing-masing membuat persaingan diprediksi berlangsung ketat dan penuh manuver.
Namun satu hal yang pasti—perebutan kursi Ketua DPC PKB Bombana kini telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan. Ia menjelma sebagai pertarungan arah, antara mempertahankan dominasi atau melompat menuju ekspansi kekuatan yang lebih luas.
Dan di tengah pusaran itu, nama Nur Kholis kini berdiri sebagai salah satu poros utama yang siap mengubah peta permainan.











Komentar