Kibar News, Bombana – Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari pemilik salah satu apotek di Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana. Belum genap dua bulan apoteknya beroperasi, ia justru dihadapkan pada fenomena yang membuatnya terhenyak: hampir setiap hari ada warga yang datang menanyakan obat penggugur kandungan.
Pengakuan itu bukan sekadar cerita sesaat. Ia menyebut, dalam sepekan, hanya satu hingga dua hari saja tidak ada yang datang mencari obat tersebut. Selebihnya, permintaan terus berdatangan.
“Saya kaget. Hampir setiap hari ada yang datang menanyakan obat penggugur kandungan. Dalam seminggu, paling dua hari saja tidak ada yang datang. Selebihnya ada terus,” ungkapnya
Fenomena ini memunculkan tanda tanya besar tentang kondisi sosial dan kesehatan reproduksi di wilayah tersebut. Jika dalam satu kecamatan saja angkanya demikian, bagaimana dengan kecamatan lain di Kabupaten Bombana?
Bukan Hanya Soal Kehamilan Tak Direncanakan
Tak hanya obat penggugur kandungan, pemilik apotek juga mengaku kerap didatangi pembeli yang mencari obat-obatan keras tanpa resep dokter. Ironisnya, menurutnya, tujuan pembelian obat tersebut bukan untuk pengobatan medis, melainkan untuk efek memabukkan.
“Selain obat penggugur, hampir setiap hari juga ada yang datang mencari obat keras tanpa resep. Dari gelagatnya, untuk disalahgunakan,” katanya.
Fenomena ini memperlihatkan dua persoalan serius sekaligus: tingginya dugaan kehamilan di luar nikah serta potensi penyalahgunaan obat keras di kalangan masyarakat.
Di satu sisi, ada indikasi lemahnya pemahaman kesehatan reproduksi. Di sisi lain, ada gejala penyimpangan penggunaan obat yang seharusnya berada dalam pengawasan ketat tenaga medis.
Sinyal Darurat Sosial
Pemilik apotek tersebut menilai kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) serta Dinas Kesehatan Kabupaten Bombana, untuk melakukan intervensi edukatif secara masif.
Menurutnya, edukasi seksual yang komprehensif perlu dilakukan secara rutin, mulai dari tingkat SMA hingga kalangan remaja di lingkungan masyarakat dan kampus.
“Saya berharap DPPPA dan Dinas Kesehatan bisa turun langsung ke sekolah-sekolah, ke kampus-kampus, ke lingkungan masyarakat. Perlu ada sosialisasi dan edukasi seksual yang serius,” ujarnya.
Ia menilai, fenomena yang terjadi di apoteknya menjadi indikator kuat bahwa persoalan kehamilan di luar nikah masih cukup tinggi, khususnya di Kecamatan Rumbia.
Antara Fakta Lapangan dan Tanggung Jawab Kolektif
Apa yang terjadi di Rumbia bisa jadi hanya puncak gunung es. Apotek adalah titik temu terakhir sebelum seseorang mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ketika etalase farmasi dipenuhi permintaan obat penggugur kandungan dan obat keras tanpa resep, maka sesungguhnya ada persoalan sosial yang lebih dalam: minimnya literasi kesehatan reproduksi, lemahnya pengawasan pergaulan remaja, serta terbatasnya ruang edukasi yang terbuka dan ilmiah.
Di sisi lain, persoalan ini juga menuntut penguatan pengawasan distribusi obat keras agar tidak mudah diakses tanpa prosedur medis yang sah.
Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar berapa banyak yang datang ke satu apotek di Rumbia, tetapi: sudahkah pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat membangun sistem pencegahan yang kuat?
Jika dalam satu kecamatan saja fenomena ini terjadi hampir setiap hari, maka ini bukan lagi isu individu. Ini adalah alarm sosial yang tak boleh diabaikan.
Bombana membutuhkan langkah cepat, terukur, dan kolaboratif. Sebab jika tidak, angka-angka yang hari ini hanya terdengar sebagai pengakuan pemilik apotek, bisa berubah menjadi statistik sosial yang lebih pahit di masa depan.











Komentar