Kibar News, Bombana — Kabupaten Bombana kembali mencuri perhatian nasional sebagai salah satu lokasi dengan potensi mineral strategis rare earth elements (REE) atau logam tanah jarang. Data pemetaan nasional yang dirilis Badan Industri Mineral (BIM) menunjukkan Blok Bombana memiliki area seluas ±64.000 hektare dengan kandungan REE sekitar 220 ppm serta antimony 6.170 ppm, menjadikannya blok mineral tanah jarang terbesar di Indonesia berdasarkan luas konsesi dibanding sejumlah blok lain di Kalimantan dan Bangka Belitung.
Potensi Ekonomi Kasar Besar
Untuk memberikan gambaran nilai ekonomi kasar potensi REE di Bombana, perhitungan kasar berbasis luas area dapat dibuat sebagai berikut:
🔹 Area Blok Bombana: 64.000 ha
🔹 Asumsi kadar rata-rata REE: 220 ppm
🔹 Bobot REE dalam ton per ha: 220 kg per 1.000 ton bijih (220 ppm)
🔹 Estimasi volume batuan layak tambang (asumsi konservatif): 50 % dari area x 10 m kedalaman layak produksi = ~3.200.000.000 ton bijih
Dengan asumsi konservatif di atas, potensi REE yang dapat diekstraksi secara teoritis bisa menyentuh ±704.000 ton REE (220 kg × 3,2 miliar).
Jika harga pasar REE yang sudah diproses berada di rentang USD 20.000 – 30.000 per ton, potensi nilai ekonominya bisa mencapai USD 14 – 21 miliar (±Rp 210 – 315 triliun), belum termasuk nilai antimony dan komoditas terkait. (nilai pasar REE diperkirakan berdasarkan harga komoditas dunia, dapat berubah) — angka ini bersifat indikatif kasar.
Kebijakan Hilirisasi REE: Momentum Nasional
Potensi besar REE memicu respons kebijakan nasional. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi baru untuk memperkuat pengelolaan tanah jarang melalui Permen ESDM 18/2025, yang menjadi implementasi lanjutan dari PP 39/2025, guna memperluas peraturan tata kelola REE di sektor pertambangan dan hilirisasi. Regulasi ini menekankan penggunaan prioritas REE untuk industri nasional strategis seperti baterai kendaraan listrik, pertahanan dan energi bersih.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto membentuk Badan Industri Mineral (BIM) sebagai lembaga negara baru yang akan memimpin industrialisasi mineral strategis termasuk REE dan antimony.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kepala BIM, Brian Yuliarto, menyatakan bahwa delapan blok mineral tanah jarang yang diidentifikasi memiliki cadangan potensial tinggi. Ia menekankan bahwa sumber daya di area tersebut merupakan primary resources — bukan sekadar produk sampingan — sehingga dapat menjadi basis industri bernilai tambah tinggi.
“Kami melihat Blok Bombana dan lain-lain memiliki potensi yang sangat besar. Ini bukan produk sampingan, tapi sumber daya primer yang layak dikembangkan industri hilirnya,” kata Brian kepada media.
Sementara itu, Kementerian ESDM telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mempercepat pengembangan REE di Indonesia, termasuk pemberian insentif fiskal dan non-fiskal, pengujian multi-elemen dari fase eksplorasi hingga penyulingan, serta optimasi pemanfaatan tailings dari nikel dan timah sebagai sumber REE.
Analisis Kebijakan Hilirisasi: Tantangan & Peluang
Indonesia ingin menghindari jebakan menjadi negara pemasok bahan mentah saja — seperti banyak terjadi pada beberapa komoditas mineral lain — dengan mendorong hilirisasi terlebih dahulu sebelum ekspor. Kebijakan ini sejalan dengan mandat BIM untuk mengintegrasikan supply chain REE dalam negeri, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan dan pemisahan unsur tanah jarang yang kompleks secara kimiawi.
Hilirisasi REE bukan perkara sederhana. Teknologi pemisahan dan pemurnian REE masih didominasi oleh Tiongkok. Indonesia perlu investasi besar di infrastruktur teknologi, riset, dan peningkatan kapasitas SDM agar dapat bersaing secara global. Namun potensi nilai tingginya — antara lain sebagai bahan baku magnet permanen, baterai EV, dan komponen elektronik — membuat hilirisasi REE menjadi salah satu prioritas strategis nasional.
Status Izin Konsesi dan Investigasi Terbuka
Meskipun potensi REE Bombana mencuri perhatian, status izin pertambangan (WIUP/IUP) dan kepemilikan konsesinya belum sepenuhnya dipublikasikan ke publik. Hingga kini, belum ada rincian resmi dari pemerintah daerah atau Kementerian ESDM mengenai:
🔹 entitas mana yang memegang izin pertambangan di Blok Bombana
🔹 jenis izin yang sudah diterbitkan
🔹 batasan wilayah konsesi
🔹 atau apakah blok tersebut sudah ditetapkan sebagai WIUP tanah jarang di bawah regulasi baru ESDM.
Sumber data publik menyebut delapan blok besar tanah jarang sedang diteliti intensif oleh BIM — namun rincian administratif atas masing-masing blok, termasuk Bombana, masih dalam tahap kajian internal BIM dan Kementerian ESDM untuk kemudian direkomendasikan sebagai area yang akan diprioritaskan bagi BUMN atau investor strategis.
Tantangan lingkungan dan sosial
Selain aspek ekonomi, eksplorasi dan pengembangan REE di Bombana menghadapi tantangan besar: potensi dampak lingkungan, tata guna lahan, serta kebutuhan dialog intensif dengan masyarakat lokal. Kegiatan pertambangan modern REE membutuhkan studi lingkungan hidup (AMDAL) dan pengelolaan tailings yang sangat ketat karena proses pemisahan unsur tanah jarang melibatkan bahan kimia yang kompleks.
Bombana di Peta Mineral Dunia
Indonesia kini berada dalam persaingan global untuk memanfaatkan sumber daya REE sebagai komoditas strategis. Permintaan dunia terhadap REE diperkirakan terus meningkat seiring transisi energi bersih dan revolusi teknologi tinggi. Jika Bombana mampu menerjemahkan potensi REE 64.000 ha menjadi cadangan ekonomis yang layak diolah, kabupaten ini bisa menjadi kunci baru dalam rantai pasok mineral strategis dunia — dan bukan sekadar lokasi tambang.











Komentar