Longsor Kabaena Disorot: PT Almharig Buka Fakta, Tudingan Mulai Dipatahkan

Kibar News, Bombana — Bencana longsor yang terjadi di wilayah Olondoro, Desa Rahadopi, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, kembali menjadi sorotan publik. Di tengah derasnya arus informasi dan spekulasi yang beredar, fakta demi fakta mulai disusun untuk menemukan titik terang atas peristiwa tersebut.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Almharig, Yazid, menegaskan bahwa faktor utama penyebab longsor adalah tingginya curah hujan yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Intensitas hujan yang tinggi, menurutnya, telah mengubah struktur tanah menjadi labil dan rentan bergerak, khususnya di wilayah dengan kemiringan atau kontur tebing.

Almharig
KTT PT. Almharig, Yazid saat menjelaskan ke media terkait sebab longsor di Desa Rahadopi (Sumber: Tim Almharig)
Baca Selengkapnya  Sadar Pentingnya Data Statistik Akurat, Si Cantik Kini Merambah Masuk ke Desa

Air yang meresap ke dalam tanah membuat daya ikat tanah melemah. Dalam kondisi seperti ini, tanah tidak lagi mampu menahan beban, apalagi di area lereng. Ini adalah penyebab paling umum dari longsor,” ungkap Yazid dalam keterangannya, Sabtu (11/4/2026).

Ia juga mengungkapkan bahwa kejadian serupa bukanlah yang pertama. Pada Juni 2025, longsor dengan karakteristik yang hampir identik pernah terjadi di lokasi yang sama—tepatnya di sisi badan jalan, bukan di area inti aktivitas pertambangan. Kala itu, perusahaan bahkan tidak sedang melakukan aktivitas operasional.

“Polanya sama. Curah hujan tinggi, kondisi tanah jenuh air, dan longsor terjadi di titik yang sama,” jelasnya.

Menanggapi isu yang berkembang di masyarakat terkait dugaan tertimbunnya sumber mata air, Yazid memberikan klarifikasi tegas. Ia menyebut bahwa lokasi longsor berjarak sekitar 500 meter dari sumber mata air, sehingga tidak memiliki dampak langsung terhadap kualitas maupun keberadaan air yang digunakan masyarakat.

“Bukan mata air yang terdampak, melainkan pipa milik salah satu penyedia jasa air bersih yang terdampak material longsor,” tambahnya.

Baca Selengkapnya  Masyarakat Kolut Kebagian Penyaluran Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah

Lebih jauh, ia mengungkap adanya kejanggalan dalam peristiwa longsor ketiga yang sempat viral di media sosial. Berdasarkan dokumentasi visual yang beredar, posisi pipa yang sebelumnya berada di bawah permukaan tanah justru terlihat berada di atas tanah saat kejadian terakhir.

“Ini yang menjadi tanda tanya besar bagi kami. Kami menduga ada pihak-pihak tertentu yang mencoba memanfaatkan situasi ini untuk menyudutkan perusahaan,” ujarnya dengan nada serius.

Di sisi lain, respons cepat juga ditunjukkan oleh pihak perusahaan. Setiap kejadian longsor langsung direspons dengan pengerahan tim dan alat berat ke lokasi. Koordinasi dengan pemerintah desa setempat pun dilakukan untuk memastikan proses penanganan berjalan efektif.

Almharig
Alat Berat berupa excavator dari PT. Almharig saat merelokasi wilayah longsor Desa Rahadopi (Sumber: Tim Almharig)

Namun, dalam proses penanganan terakhir, muncul hambatan yang tak terduga. Alat berat milik perusahaan disebut sempat dihentikan oleh sejumlah oknum tanpa alasan yang jelas. Ironisnya, pada saat kunjungan Wakil Bupati Bombana yang turut terekam dalam video yang beredar, justru terlihat alat berat lain—yang diduga milik perusahaan berbeda—dapat beroperasi di lokasi tersebut.

“Meski demikian, kami tetap siagakan alat berat kami di lokasi sebagai bentuk komitmen dalam penanganan,” tegas Yazid.

Baca Selengkapnya  Bawa Tarian Lulo Alu, Pelajar SDN 20 Batuawu Bakal Wakili Bombana Pada Pagelaran HUT Sultra Ke-60

Fakta lain yang memperkuat pernyataan tersebut datang dari hasil peninjauan resmi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bombana. Dalam berita acara tertanggal 27 Maret 2026, disebutkan bahwa kondisi mata air di kawasan tersebut, termasuk mata air Lare’ete, masih dalam keadaan jernih dan tidak ditemukan adanya endapan lumpur akibat longsor.

Almharig
DLH Bombana bersama Tim PT. Almharig, saat inspeksi longsor di Desa Rahadopi (Sumber: Tim Almharig)

 

Hal yang sama juga berlaku untuk sumber air yang dikelola yayasan dan digunakan oleh warga di sejumlah wilayah seperti Teomokole, Rahampu’u, Sikeli, Baliara, Baliara Selatan, hingga Desa Langkema—semuanya dilaporkan tetap bersih dan layak digunakan.

Di tengah silang pendapat yang berkembang, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bencana alam kerap kali membawa lebih dari sekadar dampak fisik—ia juga membuka ruang bagi berbagai narasi yang belum tentu sepenuhnya berpijak pada fakta.

Komentar