Kibar News, Bombana — Stabilitas harga gabah di Kabupaten Bombana pada musim panen rendeng Januari–Februari 2026 patut diapresiasi. Di tingkat petani, harga gabah telah menyentuh angka Rp6.500 per kilogram tanpa gejolak berarti, jauh berbeda dengan kondisi penuh kegaduhan yang sempat terjadi pada musim panen tahun 2025 lalu.
Namun, di balik tenangnya harga, Perum Bulog Kabupaten Bombana justru menghadapi persoalan yang lebih mendasar dan krusial: kualitas gabah yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Kepala Bulog Kabupaten Bombana, Aang Fahri Hajad, mengungkapkan bahwa hingga awal panen tahun ini, mutu gabah yang diserap Bulog masih berada pada level yang sama, bahkan cenderung stagnan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Padahal, dengan harga beli yang relatif tinggi, kualitas gabah semestinya ikut terdongkrak.
“Secara logika, ketika harga gabah sudah berada di angka Rp6.500 per kilogram, petani seharusnya bisa lebih optimal dalam merawat tanaman padi sejak awal tanam. Tapi faktanya, kualitas gabah yang kami terima belum mengalami peningkatan,” ujar Aang saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/2/2026).
Menurut Aang, Bulog tidak semata-mata berbicara soal stabilitas harga. Lebih dari itu, Bulog memiliki tanggung jawab menjaga standar kualitas gabah yang akan diolah menjadi beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Salah satu syarat utama gabah yang dapat diserap Bulog adalah gabah tersebut telah memasuki usia panen ideal, yang dibuktikan dengan surat pernyataan dari penyuluh pertanian setempat. Ketentuan ini bertujuan memastikan gabah dipanen pada waktu yang tepat agar mutu dan rendemen dapat optimal.
Hama Jadi Masalah Klasik
Bulog Bombana mencatat, gangguan hama masih menjadi persoalan klasik yang terus membayangi sektor pertanian daerah. Serangan tikus, walang sangit, hingga semut kerap menurunkan mutu gabah saat panen. Dampaknya bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga Bulog sebagai offtaker pemerintah.
“Kualitas gabah yang terganggu hama berpengaruh langsung terhadap hasil gilingan. Baik dari sisi kuantitas maupun mutu beras,” kata Aang.
Masalah tersebut bermuara pada rendahnya rendemen, yakni perbandingan antara jumlah gabah dengan beras yang dihasilkan setelah proses penggilingan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rendemen gabah secara nasional berada pada angka 53,38 persen. Namun capaian itu sulit diraih di Bombana.
“Di Bombana, rendemen hasil gilingan Bulog tahun lalu hanya mentok di angka 51 persen. Bahkan pada awal panen rendeng tahun ini, rata-rata rendemen masih berada di bawah 50 persen,” ungkapnya.
Situasi paling ekstrem, lanjut Aang, terjadi ketika Bulog mendapati gabah dengan rendemen hanya 41 persen. Artinya, dari setiap 100 kilogram gabah, hanya 41 kilogram beras yang dihasilkan.
“Itu sangat kecil. Selisihnya hampir 10 persen dari rendemen ideal. Kalau dikonversi dalam skala besar, ini berpotensi menjadi kerugian negara,” tegasnya.
Selisih Kecil, Dampak Besar
Dalam skema perhitungan Bulog, rendemen ideal berada di kisaran 50 hingga 54 persen. Sekilas, selisih 5–6 kilogram beras dari setiap 100 kilogram gabah tampak kecil. Namun jika dikalikan dengan puluhan ribu hingga jutaan kilogram gabah yang diserap, dampaknya menjadi sangat signifikan terhadap efisiensi anggaran negara.
“Gabah dengan kualitas baik bisa menghasilkan rendemen sampai 54 persen. Sebaliknya, kalau rendemennya hanya 48–49 persen, berarti ada sekitar 6 kilogram beras yang hilang dari setiap 100 kilogram gabah,” jelas Aang.
Ia menegaskan, persoalan kualitas gabah tidak semata urusan teknis penggilingan, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas beras SPHP dan bantuan pangan yang dikonsumsi masyarakat, khususnya kelompok rentan.
“Kalau gabahnya bagus, CBP-nya juga bagus. Dan itu yang nanti dikonsumsi masyarakat luas,” katanya.
Butuh Pendampingan Sejak Awal Tanam
Aang berharap perbaikan kualitas gabah tidak hanya dibebankan pada petani semata, melainkan membutuhkan pendampingan serius dari dinas terkait sejak awal masa tanam. Saat ini, Bulog Bombana telah dibantu oleh Tim Jemput Pangan dari TNI untuk penyerapan gabah, sementara Polri fokus pada penyerapan komoditas jagung.
“Padi yang dirawat dengan baik sejak awal akan menghasilkan beras yang kuat dan berkualitas. Itu kuncinya,” ujarnya.
Menurut Aang, tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Bombana. Isu harga tidak lagi menjadi sumber kegaduhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun tantangan sesungguhnya kini bergeser pada mutu gabah dan efisiensi hasil gilingan.
“Kalau kualitas tidak dibenahi, stabilitas harga justru bisa menyisakan persoalan lain, yakni rendemen rendah dan potensi pemborosan anggaran negara,” pungkasnya.











Komentar